Membedah Pemahaman Membeli Properti Tanpa Modal Uang dan Modal Hutang

Recomended


Membedah Pemahaman Membeli Properti Tanpa Modal Uang dan Modal Hutang - Mungkin Anda pernah mendengar atau barangkali salah satu orang yang percaya bisa membeli properti tanpa Uang dan tanpa KPR? 


karena rasa ingin tahu yang cukup tinggi, sewaktu ada informasi dari sebuah siaran radio yang cukup populer di Surabaya tempat saya tinggal akan ada acara seminar Properti yang membahas hal tersebut, saya pun daftar.

Tapi, ujung-ujungnya, Hah.. disuruh bayar 3 juta? Mungkin, bagi sebagian orang, uang 3 juta kecil, tapi menurut saya itu jumlah yang lumayan besar untuk satu kali seminar, yang belum tentu isinya nanti bermanfaat dan bisa diterapkan, akhirnya batal untuk ikut seminar tersebut. 


Membedah Pemahaman Membeli Properti Tanpa Modal Uang dan Modal Hutang

Dan akhirnya untuk mengobati rasa penasaran akan hal tersebut, pilihan jatuh untuk membeli sebuah buku karangan orang yang mengisi di acara seminar tersebut, harga buku tergolong lumayan mahal Rp 150 ribu untuk buku motivasi dan strategi beli properti tanpa modal uang dan tanpa utang. 

Setelah saya pelajari, yang di dalamnya ternyata ada bonus VCD juga, isi buku dan video sebagian besar didominasi testimoni, serta berbagai alasan yang mengajak pembaca untuk mengikuti seminarnya, dimana disana dijanjikan bakal diberi jurus-jurus sakti yang tidak terungkap dalam bukunya. 

Dan kesimpulan dari buku yang saya baca dan juga informasi lain yang saya dapatkan dari berbagai sumber di internet, bahwa apa yang disajikan dalam seminar-seminar properti, secara teori memang bisa, dan tidak ada salahnya. Tapi, secara praktek dan realitanya akan sangat sulit. 

Sebagai contoh, di dalam seminar, di sampaikan teori memiliki properti tanpa modal tanpa utang, dengan cara "Media Spot/ Advertising Spot", teori ini mengatakan, milikilah properti dengan cara menawarkan pada perusahaan media untuk memasang titik iklan di lahan yang kita inginkan.

Membedah Pemahaman Membeli Properti Tanpa Modal Uang dan Modal Hutang
Image via - kenalsatu.com

Gambarannya kurang lebih seperti ini :
  1. Sebutlah ada properti A, berupa bangunan ruko 4 lantai, di daerah yang sangat strategis, ukuran tanah 100 meter persegi, ukuran bangunan 400 meter persegi. 
  2. Ruko A ini dijual dengan harga katakanlah 5 Milyar. 
  3. Anda segera mencari info dan menawarkan Perusahaan Advertising yang mau pasang iklan Billboard besar di depan ruko (nempel di dinding depan ruko) Katakanlah anda berhasil mendapat kontrak dari perusahan Advertising, pasang billboard di ruko A selama 20 tahun, nilai per tahun 200 juta. 
  4. Anda menyewakan lantai 1 ruko untuk mini market, selama 10 tahun, seharga 80 juta per tahunnya. 
  5. Anda menyewakan lantai 2, lantai 3, dan lantai 4 untuk perkantoran. Masing-masing nilai sewanya 30 juta per tahun, selama masa kontrak 5 tahun juga misalnya. 
  6. Setelah dapat dan bisa terealisasi, mari dihitung pendapatannya : Penghasilan dari billboard: 200 juta x 20 tahun = 4 Milyar, Sewa lantai 1 : 80 juta x 10 tahun = 800 juta, Sewa lantai 2, lantai 3 dan lantai 4 : 3 x 30 juta x 5 tahun = 450 juta, Total pendapatan Rp. 5.250.000.000. Ingat, harga ruko tadi 5 milyar. 
  7. Jadi intinya anda dapat ruko itu gratis? bahkan masih ada sisa 250 juta (diluar biaya notaris, jual beli, renovasi, dll). 

Logis? Sangat logis, akan tetapi :
  • Penjual ruko itu harus bener-benar tidak punya ide sama sekali mengenai potensi rukonya sendiri. 
  • Anda harus mendapat Perusahaan Advertising yang mau di bodohi, kenapa harus bayar mahal untuk pasang billboard kalo dia bisa beli ruko itu sendiri dengan harga yang selisihnya tidak terlalu jauh. 
  • Anda harus mampu menemukan 3 Perusahaan yang khilaf, mau sewa 1 lantai kantor dengan harga yang relatif tidak murah. 
  • Anda harus sangat beruntung, lebih cepat dari pesaing-pesaing lain yang menemukan potensi dari ruko ini. 
Lantas, bagaimana menurut anda dengan segala kemungkinan-kemungkinan tersebut diatas? menurut saya cukup sulit untuk kondisi saat ini.
Baca juga : Mau Ajukan KPR ke Bank? Wajib Baca ini terlebih dahulu
Teori lain dalam Seminar Properti mengatakan, untuk bisa memiliki rumah tanpa modal tanpa utang, bertindaklah sebagai Agen Properti dulu, dengan cara-cara sebagai berikut : 

Langkah pertama 

Jika ada rumah dijual, kepada Penjual rumah, usahakan kita bisa mendapatkan foto copy sertifikat, ulur tanda jadi dan DPnya dengan alasan "butuh waktu untuk kumpulin DP" Buatkan komitmen di atas surat bahwa kita sudah setuju membeli properti nya dengan harga yang disepakati. 

Langkah kedua 

Iklankan rumah tersebut, sebisa mungkin naikkan harga semaksimal mungkin (tapi ingat, harga harus sesuai dengan kondisi). Dalam iklan tersebut, tawarkan apa saja dengan kata-kata yang menarik dan Bombastis. Misalnya, passive income dari sewa, harga naik sebelum lebaran, dll. Sampai ada yang setuju dengan harga lebih tinggi yang kita ajukan, selanjutnya DP uang kita terima dari Pembeli kita oper ke Penjual (jadi DP bukan dari uang kita, ini maksudnya).

Langkah ketiga 

Pakailah Jasa Notaris, biar mulus. Dengan perjanjian seperti, pembeli rumah membayar kepada kita, lalu kita membayar kepada penjual, atau pembeli membayar ke penjual, 'kelebihan KPR' transfer ke kita. Mudah bukan? Sekali lagi, secara teori. 

Tapi, di dalam kenyataannya : 

Kondisi seperti sekarang ini, siapa yang mau begitu saja menyerahkan foto copy sertifikat? kecuali si penjual rumah itu orang yang sudah anda kenal baik, misal: kerabat, sahabat atau rekan kerja yang bisa anda yakinkan bahwa anda serius ingin membeli atau mencarikan orang yang ingin membeli rumah. 


Pembeli rumah juga harus mudah ditipu, jika bisa membeli langsung pada si pemilik rumah dengan harga lebih murah, kenapa harus membeli lewat perantara dengan harga lebih mahal? 

Jadi, pada intinya tak ada yang bisa membeli properti tanpa modal tanpa uang. Lantas, mengapa seminar-seminar semacam itu kian marak? 

Hal ini tak lepas dari jelinya pembicara seminar yang melihat potensi bisnis bidang properti yang semakin menjamur, serta kondisi psikologis sebagian besar masyarakat Indonesia, yang lebih mudah tergiur dengan setiap kemudahan. Lagipula, siapa yang tak mau dan tak ingin memiliki properti? Apalagi dengan embel-embel "tanpa modal tanpa utang". 

Sampai saat ini, masih ada pertanyaan yang mengganjal di benak saya. Jika memang pembicara seminar itu berhasil dengan cara dan strateginya sendiri, lantas mengapa dia tidak masuk saja dalam bisnis properti? 

Jika memang jurus-jurusnya manjur dan sangat sakti, sudah berapa banyak properti yang dia miliki? Apakah dia sudah sehebat Ciputra atau James Riadi? Mengapa malah sibuk mengisi seminar kesana kemari? 

Baca juga : Apa Itu KPR (Kredit Pemilikan Rumah)


Kesimpulan terakhir :

  1. Pembicara seminar properti sepertinya membeli properti memang dengan uang orang-orang yang ikut seminar, jadi bukan dengan uangnya sendiri secara langsung. 
  2. Sebagian besar teori memang sengaja dibuat masuk akal, tapi sulit menemukan keadaan seperti yang dijabarkan bila dipraktekkan di dunia nyata. 
  3. Pembicara juga tahu yang berhasil pasti cuma di angka 1-5%, karena itu ada kelas tambahan yang pasti harus bayar lagi. Dan itu bukan support tapi 'tehnik menyedot uang' yang diperhalus kata-katanya. 
  4. Pembicara juga tahu, pasti banyak juga yang tidak akan mempraktekkannya. Kalaupun ada yang mengatakan sudah praktek dan tidak berhasil, pembicara selalu bisa berkelit dengan mengatakan "kurang fokus, kurang kerja keras, anda kurang beruntung, coba sekali lagi, dll". 
  5. Selain itu, diawal seminar, pembicara sudah langsung menakut-nakuti peserta dengan berbagai tuntutan hukum bila menyebarkan ilmu dari seminar tersebut. 
  6. Teori-teori yang dijelaskan itu semua gratisan, yang tidak gratis adalah ilmu orang-orang yang 'benar-benar berhasil'. Pernahkah anda mendengar Ciputra atau James Riady berbagi cara bagaimana melonjakkan bisnis propertinya? Mungkin ada, tapi harus bayar mahal.
  7. Ini nyata, sebagian besar ilmu yang dibagikan cuma terjemahan versi bahasa asing karena rata-rata orang kita itu hanya sekedar 'penerjemah' bukan penemu. 
Tapi, meski begitu, ada satu hal yang saya kagumi dari pengisi seminar-seminar seperti ini, yaitu kemampuannya menciptakan Tagline untuk pemasaran seminarnya, Beli properti tanpa modal uang dan tanpa modal hutang.

Terima kasih