Jangan Membayar Properti dari Hasil Bisnis atau Gaji

Recomended


Jangan Membayar Properti dari Hasil Bisnis atau Gaji - Judul yang sangat menarik bukan? Apakah anda saat ini membayar properti dari hasil bisnis atau gaji? Ini salah. Saya tidak melarang anda berbisnis, yang pantang anda lakukan adalah membayar properti dari hasil bisnis. Alasannya, jika Anda melakukan hal ini :

Anda siap menang, tetapi tidak siap kalah. Bisnis bisa naik tapi, tapi bisa juga turun. Nah, sewaktu turun, apakah bisa untuk membayar angsuran properti?

Jangan Membayar Properti dari Hasil Bisnis atau Gaji

Bisnis, meskipun dijalankan oleh pegawai, resikonya tetap ada di tangan kita sebagai pemilik. Banyak orang sudah merasa gagah karena bisnisnya sudah di jalankan oleh pegawai sehingga hasilnya dipakai untuk membayar properti. Ini salah besar karena bisa terkena dua resiko, yaitu pasar menurun dan/atau ditipu oleh pegawainya.

Itulah sebabnya kita perlu yang namanya MENGUNCI RESIKO dan inilah yang sering dilupakan orang karena terjebak dalam dikotomi antara active income dan passive income yang ajarkan oleh Robert T. Kiyosaki.

Jangan Membayar Properti dari Hasil Bisnis atau Gaji

Dalam dikotomi tersebut, Kiyosaki mengajak orang untuk berpindah dari kuadran kiri, yaitu active income sebagai E (Employee/ Pegawai) dan S (Self-Employed/ Orang yang bekerja sendiri, seperti Artis, Pengacara, Dokter, Pemilik toko yang menjalankan usahanya sendiri), ke kuadran kanan, yaitu passive income sebagai B (Business Owner) dan I (Investor).

Masalahnya, orang kemudian hanya terpaku pada dikotomi kiri-kanan atau aktif-pasif dan terkesima pada yang sebelah kanan. Padahal, ada satu hal mendasar yang seharusnya dicermati lebih dulu sebelum mengarahkan perhatian pada dikotomi tersebut, yaitu RESIKO.

kita harus melihat apakah resiko itu merupakan OPEN RISK atau LOCKED RISK. Nah, berkaitan dengan pantangan membayar properti dari hasil bisnis, saya akan menjelaskan kedua kondisi resiko tersebut dengan contoh empat orang yang membuka usaha di tepi jalan strategis yang sama.


A B C D
Sekarang mari kita lihat satu persatu dan sebut saja masing-masing bernama A, B, C, dan D :


D adalah orang bodoh nomor 4 (kategori income : active income; kategori resiko : open risk).

Dari pagi sampai malam, meskipun punya pegawai, D masih mengurusi segala hal, mulai dari membuka toko, menyeleksi dan menerima pemasok, membeli barang dagangan, menjadi kasir, melayani pelanggan, mengurus kiriman barang sampai menutup toko. Dia menjadi satu-satunya "nyawa" kelangsungan usahanya. 

Kalau mampir ke toko D, Kiyosaki akan "memarahi"nya karena D masih berkutat dengan active income. Sedangkan saya akan memarahi juga tapi dengan alasan berbeda. Dan dalam kuadran saya D disebut orang bodoh nomor 4. Sebab, D tidak mengunci resiko dan memakai hasil bisnisnya untuk membayar properti.

C adalah orang bodoh nomor 3 (kategori income : passive income; kategori risk : open risk)

Berbeda dengan D, bisnis C boleh saja sudah punya sistem dan pegawainya sudah dia jadikan sekutu aktif yang memegang saham minor sehingga dia menerima passive income. Kiyosaki tentu akan memuji C karena sudah berpindah ke kuadran kanan, passive income. sedangkan dalam kuadaran saya, C masih tergolong orang bodoh nomor 3, sebab meskipun tergolong dalam kelompok passive income, dia tetap belum mengunci resiko. 

Memanganya kalau sudah passive income, otomatis mengunci resiko? Jelas tidak. keduanya adalah hal yang berbeda, jika yang di lakukan C ini di pakai untuk membayar properti, tentu sangat riskan. sebab, C belum mengunci resiko turunnya bisnis dan/atau di tipu oleh pegawainya.

B adalah orang cerdas nomor 2 (kategori income : active income; kategori resiko : locked risk)

B memang masih berkutat dengan active income karena menjaga tokonya sebagaimana dilakukan oleh D pada contoh sebelumnya. B tentu juga akan "dimarahi" oleh Kiyosaki karena belum berpindah ke kuadran passive income. Namun, dalam kuadran saya, B tergolong orang cerdas nomor 2 karena meskipun masih berkutat dengan active income, dia sudah mengunci resiko dan masih lebih baik daripada C. Lebih baik active income tetapi mengunci resiko daripada passive income tetapi tidak mengunci resiko. 

A adalah orang cerdas nomor 1 (kategori income : passive income; kategori resiko : locked risk)

A punya toko tetapi tidak menjalankan sendiri karena bisnisnya sudah menggunakan sistem. Kiyosaki tentu akan memujinya karena telah berada kelompok kuadran passive income. sayapun akan memujinya tetapi dengan alasan yang berbeda. Karena A sudah mengunci resiko.
Ternyata di luar keempat kuadran ini, ada orang bodoh nomor 5. Apa itu orang bodoh nomor 5? yaitu mereka yang membayar properti dari hasil bisnis yang modalnya terutama dari utang; parahnya lagi, utang itu di peroleh dengan cara "menggoreng" rekening. Cara ini jelas menipu bank dan sebenarnya menipu dirinya sendiri karena dia tidak punya kemampuan membayar kembali utangnya. Dalam kelompok ini , termasuk juga orang yang membeli properti dengan KPR, dan dari utang ini mendapat selisih yang dikiranya cash back (padahal tambahan utang) hehe... Dan tambahan utang ini dipakai untuk bisnis. 

Penjelasan tentang perlunya mengunci resiko diatas tidak hanya berlaku untuk para pelaku bisnis. Tapi juga berlaku untuk Anda yang berstatus sebagai pegawai, karena selain terkena resiko PHK, gaji anda tidak akan cukup untuk membeli banyak properti secara kontan, tanpa utang. bahkan sekalipun telah bekerja selama 10 tahun, anda tetap tidak bisa membeli 10 properti.

Untuk tes cepatnya, jika hasil dari bisnis atau gaji anda dipakai untuk membayar properti, itu berarti uang anda adalah uang hilang, kenapa begitu? Penasaran? 

Nanti akan kita jelaskan di pembahasan selanjutnya..
Silahkan subscribe terlebih dahulu email Anda agar tidak ketinggalan update kami berikutnya..