Kenali 5 Modus Penipuan Online Yang Marak Terjadi Di Sekitar Anda

Indonesia merupakan salah satu negara tertinggi dengan tingkat penipuan dan kejahatan lainnya. Tak hanya satu, korban kasus penipuan mencapai puluhan ribu. Modus penipuan yang dilakukan tidak lagi berdasarkan hipnotis di tempat umum, melainkan pada penipuan media online.


Kasus penipuan melalui media online dinilai sangat praktis. Manfaat yang didapat pencuri jauh lebih besar. 


Penipuan semaacam ini sudah tersebar luas di sekitar kita. Dikarenakan hampir semuanya bisa dilakukan secara online dengan cepat dan mudah, apalagi saat ini aktivitas online masyarakat semakin meningkat. Oleh sebabnya mereka memanfaatkan momen tersebut.


Berhati-hatilah agar akun digital atau data pribadi Anda tidak diretas oleh penjahat dunia maya. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami dan mengetahui karakteristik mode penipuan digital yang sering ditampilkan dan cara menghindarinya agar Anda tidak menjadi korban penipuan digital.


Apa mode penipuannya? Sekarang simak ulasannya berikut ini:


5  Modus Penipuan Online Yang Marak Terjadi Di Sekitar Anda 


1. Bukti Transfer Palsu


Pembeli yang tertipu oleh penjual sudah tidak asing lagi. Bagaimana jika penjual menipu pembeli? Kasus ini sedang ramai terjadi. Penjual biasanya tertipu oleh bukti transfer yang dilakukan oleh pembeli sehubungan dengan barang yang mereka beli. Sayangnya, bukti transfer tersebut palsu dan diperoleh dari hasil edit komputer, bukan langsung dari mesin ATM.


Sekilas bukti transfer asli dan bukti transfer palsu hampir sama. Padahal, keduanya bisa dibedakan dari logo bank yang tercetak di struk pembayaran. Berbeda dengan bukti pembayaran asli, struk palsu biasanya tidak berlogo bank.


Jika Anda berprofesi sebagai pebisnis online, sebaiknya Anda lebih berhati-hati saat mengamati bukti pembayaran yang dikirim pembeli. Jangan tertipu.


2. Via e-mail


Penipuan email juga umum terjadi saat ini. Secara karakteristik, penipu mengirim pesan melalui email yang berisi tautan situs web tertentu. Anda kemudian akan diminta untuk membuka situs, masuk dan memasukkan nama pengguna dan kata sandi Anda.


Nah, ketahuilah bahwa penipuan email biasanya dilakukan dengan kedok menawarkan pekerjaan, memenangkan lotre, memperbarui data bank, atau toko online.


Mode penipuan ini biasa dikenal dengan istilah phishing. Artinya, bagaimana digital scammer mencuri informasi penting seperti username dan password korban yang mereka gunakan untuk mengakses rekening bank / kartu kredit / dompet digital korban. Oleh karena itu, Anda tidak boleh sembarangan atau terburu-buru untuk mengklik email yang tidak dikenal. Pastikan untuk memeriksa ulang tautan URL situs web Anda sebelum masuk atau melakukan transaksi online.


3. Jual Produk Dengan Harga Murah


Pecandu belanja yang gemar belanja online juga perlu lebih berhati-hati. Baru-baru ini, ada mode penipuan baru yang disebut e-bay scam. Berbeda dengan mode lainnya, mode ini bekerja pada sektor harga jual produk.


Produk yang dijual di situs sangat bias. Artinya, jauh di bawah rata-rata. Artinya, agar pengunjung tertarik membeli produk yang dijual di situs.


Semua orang pasti tergiur dengan produk murah meriah. Namun, Anda harus pintar sebelum membeli. Bandingkan harga jual produk Anda dengan situs online lain untuk mengetahui harga pasar sebenarnya.


Jika tidak ada perbedaan harga yang besar, Anda bisa membelinya. Di sisi lain, jika selisih harga terlalu besar, Anda yakin bahwa situs tersebut adalah penipu.


4. Atas Nama bank


Modus penipuan yang mengatasnamakan bank, masih sering terjadi. Penipu biasanya menghubungi atau mengirim pesan singkat melalui SMS / WhatsApp untuk memberi tahu pelanggan untuk memperbarui data pribadi mereka.


Anda perlu waspada terhadap mode penipuan phishing untuk mengambil data seperti nama pengguna dan kata sandi selama transaksi online di Internet banking. Penipu mengatakan bahwa mereka dari pihak bank dan menyuruh Anda untuk memperbarui data segera agar tidak diblokir oleh bank.


Perhatikan bahwa ini jelas ilegal. Perlu Anda ketahui bahwa bank tidak pernah menghubungi nasabah atau mengirimkan link yang meminta mereka untuk mengupdate data pribadinya dari nomor ponsel.


5. Penipuan Foto Selfie


Selfie adalah hal umum yang dilakukan banyak orang. Bahkan, berkat teknologi canggih, foto diri dengan KTP (Kartu Tanda Penduduk) kerap dijadikan salah satu cara tercepat dan terkini untuk mendaftar layanan online.


Sayangnya, jika Anda tidak berhati-hati, selfie berbasis identitas bisa menjadi target penipuan digital. Kami menyarankan Anda untuk tidak pernah mengunggah foto selfie dengan KTP, SIM, NPWP atau kartu kredit di platform media sosial (Facebook, Instagram, Twitter, TikTok) atau situs web dan aplikasi yang tidak Anda kenal.


Maraknya kasus penipuan di era digital harus diwaspadai. Godaan seperti bonus besar jangan langsung dapat dipercaya. Setiap kali Anda menemukan scam seperti di atas, Anda harus berhati-hati agar tidak menjadi korban scam tersebut.




Baca juga